Pengikut
Sabtu, 27 Juli 2013
Cerita Rakyat Lampung : Ratu Ali
disadur dari :
Sabtu, 27 Juli 2013
• Beranda » Cerita Rakyat Nusantara » Ratu Ali
Ratu Ali
Kabupaten Tanggamus - Lampung - Indonesia
Ratu Ali
Rating : Rating 2.9 2.9 (48 pemilih)
Diceritakan kembali oleh Samsuni
Ratu Ali adalah tokoh legendaris dalam masyarakat Tanggamus, di Provinsi Lampung. Ia dikenal sebagai ulama yang pandai, berilmu, dan berwibawa. Dengan kepandaiannya, ia melindungi penduduk Tanggamus dari berbagai ancaman bahaya. Hingga kini, namanya tetap dikenang oleh masyarakat setempat sebagai seorang yang suka menolong sesama. Bagaimana sepak terjang Ratu Ali dalam melindungi penduduk Tanggamus dari berbagai acaman bahaya tersebut? Berikut kisah ulama legendaris yang sakti tersebut.
* * *
Pada zaman dahulu, di sekitar Teluk Lampung terdapat sebuah pantai yang indah dan subur. Pemandangan di sekeliling pantai merupakan perpaduan antara alam laut yang indah, perbukitan yang anggun, serta daratan landai yang subur. Gelombang lau di pantai tidak terlalu besar dan warna airnya biru jernih. Ikan-ikan pesisir banyak terlihat berkejar-kejaran di sekitar bibir pantai. Di daerah pantai, banyak terdapat tanaman pakis dan paku yang tumbuh secara alami. Tidak heran jikan pantai tersebut dinamakan Pantai Paku.
Agak jauh dari Pantai Paku, terdapat sebuah perkampungan bernama Kelumbayun. Penduduknya hidup dengan bertani, berladang, dan mencari hasil-hasil hutan. Suatu hari, seorang penduduk Kelembayun sampai di Pantai Paku ketika ia sedang mencari kayu bakar. Betapa takjubnya warga Kelumbayun itu saat menyaksikan keindahan pemandangan di sekelilingnya serta kesuburan tanah daerah itu. Wilayah pantai itu tampak begitu alami dan belum terjamah oleh tangan manusia.
Usai menyaksikan dan mengamati keadaan alam di sekitar Pantai Paku, warga itu bergegas kembali ke perkampungan. Kepada seluruh warga Kelembayun, warga itu menceritakan perihal keadaan Pantai Paku yang telah disaksikannya. Mendengar cerita tersebut, para warga Kelembayun berbondong-bondong menuju ke Pantai Paku. Setelah melihat keindahan dan kesuburan pantai itu, akhirnya banyak penduduk Kelembayun yang memutuskan untuk pindah dan menetap di Pantai Paku. Di pantai itu, mereka mendirikan sebuah perkampungan dan membuka lahan pertanian dan perkebunan di sekitar pantai. Mereka menanam damar, cengkih, kopi, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga mencari hasil-hasil laut seperti ikan lokan, kerang bahekang, dan rumput laut.
Selang beberapa waktu kemudian, datang pula seorang ulama dari daerah Jewalang Teluk Bentung. ingin menetap di Pantai Paku. Ulama itu bernama Ali. Ia adalah ulama yang alim, pandai, dan suka menolong sesama. Kedatangannya ke Pantai Paku untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada penduduk setempat. Setiap hari ia mengajari anak-anak maupun orang dewasa mengaji. Karena kealimannya, penduduk setempat memanggilnya Ratu Ali. Selain mengajar mengaji, sehari-hari Ratu Ali juga bertani, berkebun, dan mencari ikan di pantai.
Pada suatu malam, Ratu Ali bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang berjenggot lebat. Dalam mimpi tersebut, kakek itu berpesan kepadanya.
“Wahai, Ratu Ali! Jika engkau ingin menyelamatkan kampung ini dari ancaman bahaya, pergilah bertapa ke Pulau Teluk Paku selama empat puluh hari empat puluh malam. Tapi, ingat! Kamu harus melalui berbagai macam ujian dalam pertapaanmu. Jika engkau lulus ujian, maka Allah SWT akan memberimu kekuatan yang sangat dahsyat,” ujar kakek itu.
Ketika Ratu Ali akan menanyakan tentang ancaman bahaya yang akan menimpa kampungnya, kakek itu tiba-tiba menghilang. Begitu terbangun, Ratu Ali merasa bahwa mimpi bertemu dengan kakek itu seolah-olah nyata. Ia mendengar dengan sangat jelas semua pesan-pesan yang disampaikan kakek itu. Ia pun sangat yakin dan percaya terhadap pesan-pesan tersebut.
Pada hari Jumat, seusai sembahyang Jumat, Ratu Ali berangkat ke Pulau Teluk Paku dengan menyeberangi pantai. Di pulau itu, ulama yang berjiwa penolong itu memulai pertapaannya di atas sebuah batu besar di dalam sebuah gua. Di dinding-dinding batu di sekitarnya tampak ribuan kelelawar sedang bergelantungan. Suasana di dalam gua itu tampak sepi. Kawanan kelelawar tersebut terlihat tenang dan tidak merasa terusik oleh kedatangan Ratu Ali. Hanya suara gemercik air yang terdengar memecah kesunyian di dalam gua tersebut.
Pada hari pertama, kedua, ketiga hingga hari kesepuluh, Ratu Ali masih tampak tenang dan khusyuk dalam pertapaannya. Ulama itu merasakan kekuatan di dalam tubuhnya berangnsur-angsur bertambah. Ia pun semakin khusyuk bertanpa hingga kekuataannya hampir mendekati sempurna. Namun, begitu memasuki hari ketiga puluh delapan, gangguan pun mulai datang. Raja Setan datang ke Pulau Teluk Paku dengan sebuah kapal besar untuk menggoda dan mengganggu pertapaannya. Dengan kesaktiannya, Ali segera mengubah kapal Raja Setan tersebut menjadi batu dengan hanya mengucapkan kata-kata tanpa harus meninggalkan tempat pertapaannya.
“Hai, kapal! Berubalah menjadi batu besar!”
Seketika, kapal itu menjelma menjadi batu besar. Raja Setan pun langsung lari tunggang-langgang karena ketakutan. Konon, batu itu diberi nama Batu Kapal karena bentuknya menyerupai kapal. Sementara itu, Raja Setan itu mendendam kepada Ratu Ali. Pelampiasan dendamnya dicurahkan kepada setiap warga yang melewati perairan Pulau Teluk Paku. Setiap ada perahu yang lewat akan diganggunya. Akan tetapi, Raja Setan itu tidak berani mengganggu jika warga tersebut menyebut nama Ratu Ali.
Memasuki hari keempat puluh sembilan pertapaannya, Ratu Ali semakin hampir mencapai kesempurnaan kekuatannya. Namun demikian, godaan yang datang kepadanya pun semakin berat. Pada hari itu, angin bertiup kencang dan gelombang laut menderu-deru seakan-akan hendak menutupi Pulau Teluk Paku. Ratu Ali tetap khusyuk dalam pertapaannya. Ia tidak perduli lagi dengan keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba kakek yang berjenggot lebat itu datang mendengkatinya.
“Wahai, Ratu Ali! Bukalah mulutmu!” seru kakek itu.
Begitu Ratu Ali membuka mulut, kakek itu memasukkan tiga buah benda sebesar biji kopi ke dalam mulut Ratu Ali. Setelah itu, kakek itu menghilang entah ke mana. Selang beberapa waktu kemudian, tiupan angin semakin kencang sehingga banyak pepohonan yang tumbang di pulau itu. Penduduk Pantai Paku yang menyaksikan peristiwa itu dari Pantai Paku menjadi ketakutan. Ketika mengetahui Ratu Ali berada di pulau tersebut, mereka pun segera memohon pertolongan kepada Allah SWT agar menyelamatkan Ratu Ali dari bencana angin ribut tersebut.
Tak berapa kemudian, tiba-tiba para penduduk dikejutkan oleh sebuah benda yang diterbangkan angin di atas Pulau Teluk Paku. Benda itu berputar-putar di udara dan kemudian jatuh terhempas di Pantai Paku. Begitu mereka ingin melihatnya dari arah dekat, tiba-tiba benda itu kembali diterbangkan angin ke udara. Benda aneh itu berputar-putar di udara beberapa saat dan kemudian kembali terjatuh di Pantai Paku. Rupanya, benda itu adalah Ratu Ali yang telah memperoleh ilmu tinggi. Ratu Ali sendiri tidak sadar kalau dirinya diterbangkan angin.
Setelah itu, suasana kembali berangsur-angsur normal. Ratu Ali masih terlihat tergeletak tidak sadarkan diri. Tak berapa lama kemudian, hujan deras turun mengguyur seluruh tubuhnya sehingga ia kembali sadar. Tidak jauh dari tempat Ratu Ali tergeletak di pantai itu, tiba-tiba muncul sebuah sumur.
Bebarapa hari setelah kejadian itu, Ratu Ali kembali bermimpi didatangi oleh kakek itu. Kakek yang berjengkot panjang itu berpesan kepada Ratu Ali agar tempat tidurnya itu dijadikan sebagai tempat sembahyang. Sementara itu, sumur yang muncul di dekat tempat Ratu Ali terjatuh agar dijadikan sebagai tempat untuk mengambil air wudhu. Sumur itu kemudian dinamakan Sumur Ratu Ali. Sebelum pergi dari mimpi Ratu Ali, kakek itu berpesan kepada Ratu Ali.
“Wahai, Ratu Ali! Kini, ilmumu telah mencapai tingkat kesempurnaan. Kekuatanmu sama seperti kekuatan 10 ekor gajah, dan ucapanmu adalah senjata yang sakti. Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya ilmu tersebut untuk menolong dan melindungi sesama,” ujar kakek itu seraya menghilang.
Begitu kakek itu pergi dari mimpinya, Ratu Ali pun terbangun. Dalam hatinya berkata bahwa ia berjanji akan menuruti semua nasehat kakek itu.
Kini, Ratu Ali adalah seorang ulama yang berilmu tinggi dan berwibawa. Meski demikian, ia tidak pernah merasa sombong dan angkuh. Sesuai dengan nasehat sang kakek, Ratu Ali akan menjadi penolong dan pelindung bagi masyarakat sekitarnya.
Pada suatu hari, kampung Pantai Paku kembali gempar karena didatangi dua ekor naga. Kedua binatang raksasa itu hendak mengganggu para penduduk yang sedang mencari ikan di pantai. Seorang penduduk segera melaporkan kejadian itu kepada Ratu Ali. Mendapat laporan tersebut, ulama yang sakti itu segera menuju ke pantai. Dengan ucapannya yang sakti, ia pun mengubah kedua naga itu menjadi batu.
Sejak peristiwa tersebut, tak satu makhluk pun yang berani datang mengganggu penduduk Pantai Paku. Sementara itu, Ratu Ali senantiasa menjadi pelindung bagi masyarakat sampai akhir hayatnya. Hingga kini, ia tetap dikenang oleh masyarakat setempat sebagai seorang ulama yang suka menolong sesama.
* * *
Demikian cerita Ratu Alit dari Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Cerita di atas merupakan cerita legenda yang menceritakan beberapa asal-asul nama tempat dan nama-nama benda yang ada di daerah tersebut, seperti nama Batu Kapal sebagai penjelmaan dari kapal Raja Setan, Batu Naga sebagai penjelmaan dari dua ekor naga, Sumur Ratu Ali sebagai penjelmaan tempat Ratu Ali terjatuh, dan beberapa asal-asul nama tempat lainnya.
Pelajaran yang dapat dipetik bahwa cerita di atas mengajarkan agar senantiasalah kita rendah hati meskipun kita memiliki ilmu yang tinggi dan mengamalkan ilmu tersebut untuk menolong dan melindungi masyarakat di sekitar kita, sebagaimana yang dilakukan oleh Ratu Ali. Berkat kebaikannya, Ratu Ali senantiasa dikenang oleh masyarakat di daerah tersebut. (Samsuni/sas/190/03-10)
Dibaca 12.697 kali
Cerita Rakyat Lampung : Unang Batin
disadur dari : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/198-Unang-Batin.
Sabtu, 27 Juli 2013
• Beranda » Cerita Rakyat Nusantara » Unang Batin
Unang Batin
Kabupaten Lampung Selatan - Lampung - Indonesia
Unang Batin
Rating : Rating 2.6 2.6 (31 pemilih)
Diceritakan kembali oleh: Samsuni
Unang Batin adalah seorang pendekar sakti mandraguna yang memiliki sifat rendah hati dari daerah Desa Putih Doh, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Suatu saat, ketika ia memenangkan sebuah pertandingan silat antar kampung, ada beberapa orang dari daerah lain yang dendam kepadanya dan berniat untuk mencelakainya. Bagaimana kisah selanjutnya? Mampukah Unang Batin selamat dari ancaman tersebut? Berikut kisahnya dalam cerita Unang Batin.
* * *
Alkisah, di daerah Putih Doh, Lampung, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki-laki mereka yang bernama Unang Batin, yang berarti jiwa atau hati yang selalu bercahaya. Nama itu merupakan pemberian dari Penyeimbang Adat yang terkenal cakap dan setia kepada daerahnya. Ayah Unang Batin adalah seorang yang sangat dalam ilmu agamanya dan mahir bermain silat. Sang Ayah dan Penyeimbang Adat berharap kelak Unang Batin menjadi seorang hulubalang yang cakap dan senantiasa siap bertempur untuk membela kebenaran. Oleh karena itu, sejak dini sang Ayah menempa anak semata wayangnya itu dengan pengetahuan agama dan ilmu bela diri.
Unang Batin adalah anak yang cerdas. Setiap pelajaran yang diberikan oleh ayahnya dapat dicerna dengan mudah dan cepat. Tak heran, jika pada usia remaja ia sudah banyak menguasai ilmu agama dan ilmu bela diri yang diberikan sang ayah kepadanya. Meski demikian, sang ayah merasa belum puas dengan ilmu yang dimiliki Unang Batin sebagai bekal untuk menjadi seorang hulubalang yang cakap.
“Anakku, semua ilmu yang Ayah miliki telah kamu kuasai. Paling tidak kamu sudah bisa membela diri dari ancaman bahaya yang datang tiba-tiba. Tapi, Ayah berharap kamu harus lebih memperdalam ilmumu dan mempelajari ilmu-ilmu lain yang belum kamu miliki,” ujar ayah Unang Batin.
“Apa maksud, Ayah?” tanya Unang Batin bingung.
“Ayah menginginkan kamu pergi merantau untuk memperdalam ilmumu,” ungkap ayahnya.
“Baik, jika itu yang Ayah kehendaki. Unang pun akan merasa senang dapat menimba ilmu lebih banyak lagi,” kata Unang Batin dengan penuh semangat.
“Tapi ingat, Anakku, selama di perantauan kamu harus selalu menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih mudah dari kamu. Begitu pula jika kamu sudah berilmu tinggi, janganlah kamu gunakan untuk kejahatan, tapi gunakanlah untuk kebaikan!” pesan ayahnya.
“Baik, Ayah! Unang akan selalu mengingat semua petuah Ayah,” kata Unang Batin.
Keesokan harinya, Unang Batin pun pergi meninggalkan kampung halamannya dengan bekal secukupnya. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan sampailah ia di daerah Palembang. Setelah beberapa lama tinggal dan belajar di daerah itu, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Bengkulu, Pariaman, Aceh hingga ke Malaka (Malaysia). Berbagai ilmu pengetahuan pun ia kuasai, seperti ilmu silat, ilmu kebal, ilmu meringankan tubuh, ilmu dayang (pukulan jarak jauh), ilmu falak, ilmu penangkal racun dan penangkal teluh (ilmu hitam), dan berbagai ilmu yang lainnya. Kini, ia benar-benar telah menjadi ksatria yang sakti mandraguna. Namun, sesuai dengan pesan sang ayah, ia tidak pernah menyombongkan diri dengan ilmu yang dimilikinya itu.
Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di perantauan, Unang Batin tiba-tiba merasa rindu ingin bertemu dengan keluarganya. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Setibanya di Kampung, ia disambut gembira oleh keluarga dan seluruh warga kampung. Betapa senangnya hati kedua orang tuanya melihat keberhasilan Unang Batin.
Suatu hari, Penyeimbang Putih Doh Cukuhbalah mengundang seluruh warganya, termasuk Unang Batin, untuk mengadakan musyawarah di rumahnya.
“Dengarlah, wahai seluruh wargaku! Sebentar lagi lebaran akan tiba. Seperti biasanya, setiap hari kedua setelah lebaran kampung kita mengadakan pertandingan silat antarkampung. Untuk itu, kita harus menunjuk ujang baru yang akan mewakili kampung kita dalam pertandingan itu. Menurut kalian, siapa di antara kalian yang pantas untuk diangkat menjadi ujang yang baru?” tanya Penyeimbang.
Mendengar pertanyaan itu, seluruh peserta rapat menoleh ke arah Unang Batin. Pemuda yang baru saja datang dari perantauan itu pun tertunduk malu karena semua pandangan tertuju kepadanya.
“Maaf, Tuan! Kalau menurut saya, di antara kita hanya Unang Batinlah yang pantas menjadi ujang yang baru. Tentu kita semua tahu kalau dia baru saja pulang dari perantauan menuntut berbagai ilmu silat dan pengetahuan,” sahut seorang warga.
“Bagaimana, apakah kalian semua setuju dengan usulan itu?” tanya Penyeimbang.
“Setuju!” jawab seluruh peserta rapat dengan serentak.
Akhirnya, Unang Batin pun diangkat menjadi ujang yang baru dengan gelar Mas Motokh. Sejak itu, Unang Batin menjadi terkenal dan menjadi kebanggaan seluruh warga.
Hari yang telah ditunggu-tunggu pun tiba. Dua hari setelah lebaran, para pendekar dari berbagai daerah telah berkumpul di halaman rumah Kepala Adat (Lamban Balak). Para penonton pun mulai memadati pinggir arena pertandingan. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin menyaksikan pertandingan yang seru itu. Demikian pula para peserta, mereka sudah tidak sabar ingin menunjukkan kehebatan masing-masing. Beberapa peserta tampak sedang sibuk berlatih sebelum pertandingan dimulai. Sementara itu, Unang Batin yang kini bergelar Mas Motokh tampak berdiri dengan tenang di sudut arena pertandingan sambil memperhatikan orang-orang yang sedang berlatih.
Tak berapa lama kemudian, gong pun berbunyi sebagai tanda pertandingan dimulai. Pertandingan itu berlangsung satu lawan satu. Siapa yang menang akan ditantang oleh peserta lainnya, dan begitu seterusnya. Setelah beberapa lama pertandingan itu berlangsung, para peserta pun gugur satu demi satu. Kini, peserta hanya tersisa Unang Batin dan seorang lawan yang bernama Marga Pertiwi. Marga Pertiwi adalah pemenang pada pertandingan tahun lalu. Ia terkenal memiliki ilmu silat dan ilmu gaib yang tinggi. Meski demikian, Unang Batin tidak merasa gentar menghadapinya.
Kedua peserta itu berdiri saling berhadapan dan saling menatap dengan pandangan yang tajam.
“Hai, Anak Muda! Keluarkanlah semua kemampuanmu karena aku sudah tidak sabar lagi ingin menghajarmu!” seru Marga Pertiwi.
“Baiklah, Marga Pertiwi. Majulah kalau berani!” tantang Uang Batin.
Tanpa diduga, tiba-tiba Marga Pertiwi langsung melayangkan sebuah pukulan keras ke arah wajah Unang Batin. Unang Batin yang sudah bersiap-siap sejak awal dapat menangkisnya dengan mudah. Marga Pertiwi pun langsung naik pitam karena pukulannya dapat dipatahkan oleh Unang Batin. Pukulan dan tendangan silih berganti ia layangkan namun tak satu pun yang mengenai tumbuh Unang Batin. Karena kesal, akhirnya ia mengeluarkan tenaga dalamnya.
Melihat mulut lawannya sedang berkomat-kamit membaca mantra, Unang Batin pun mundur selangkah dan segera memasang kuda-kuda sambil berdoa. Begitu Marga Pertiwi menyerangnya, ia hanya sedikit mengelak seraya melayangkan sebuah pukulan tenaga dalam tepat mengenai dada Marga Pertiwi. Tak ayal lagi, Marga Pertiwi pun terjungkal ke tanah hingga tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan. Akhirnya, Unang Batin dinyatakan sebagai pemenang dalam pertandingan tersebut. Seluruh warga Kampung Putih Doh pun bersorak gembira menyambut kemenangan Unang Batin.
“Horeee… horeee… horeee… Unang Batin menang!”
Sementara itu, para pendudung Marga Pertiwi merasa tidak senang dengan kemenangan Unang Batin. Di wajah mereka terlihat perasaan dendam yang begitu dalam. Pada malam ketiga setelah pertandingan tersebut, sebuah cahaya berwarna hijau berputar-putar di atas rumah Unang Batin. Cahaya itu adalah teluh yang dikirim oleh Marga Pertiwi untuk mencelekai Unang Batin. Namun, begitu cahaya hijau itu akan masuk ke dalam rumah melalui atap, tiba-tiba sebuah cahaya berwarna kuning keluar dari dalam rumah dan menghadangnya. Ternyata, Unang Batin telah mengetahui kedatangan teluh itu dan segera membaca doa penolak bala sehingga keluarlah cahaya kuning itu. Kedua cahaya tersebut bertarung dan saling berkejaran di atas kampung Putih Doh. Sungguh pemandangan yang indah tapi mengerikan. Semua warga menjadi khawatir atas keselamatan Unang Batin. Untungnya, ilmu penangkal Unang Batin dapat mengalahkan ilmu teluh Marga Pertiwi. Meskipun para warga memuji kesaktiannya, Unang Batin tetap saja selalu rendah diri.
“Ah, semua itu terjadi berkat pertolongan Yang Mahakuasa. Apalah artinya saya ini kalau pertolongan itu tidak ada,” kata Unang Batin setiap ada orang yang memujinya.
Sementara itu di tempat lain, Marga Pertiwi dan para pengikutnya sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai Unang Batin. Mereka akan mengadakan pesta pada malam hari dan mengundang Unang Batin. Pada saat pesta itu berlangsung, Unang Batin pun hadir. Tanpa disadarinya, sejumlah pengikut Marga Pertiwi secara diam-diam merusak tangga dan tiang-tiang rumahnya di Kampung Putih Doh. Unang Batin adalah orang yang pulang paling akhir dari pesat itu. Ketika akan naik ke rumahnya, tangga yang diinjaknya patah sehingga ia pun jatuh terjungkal ke tanah. Begitu ia akan bangkit, tiba-tiba datanglah sepuluh orang anak buah Marga Pertiwi mengepungnya dengan pedang terhunus. Unang Batin benar-benar tidak berdaya dan tidak lagi mampu mengadakan perlawanan. Sebelum nyawanya dihabisi, Unang Batin berpesan kepada musuh-musuhnya.
“Kalau aku mati, maka dalam tempo empat puluh hari kalian juga akan mati. Tidak hanya kalian, tapi seluruh keluarga kalian tidak akan ada yang selamat,” ucap Unang Batin.
Para musuhnya tidak menghiraukan ucapan Unang tersebut. Mereka pun menghabisi nyawa Unang Batin dan kemudian membuang mayatnya ke laut. Kejadian itu terjadi cepat sekali sehingga tak ada seorang pun warga yang mengetahuinya. Sebelum genap empat hari meninggalnya Unang Batin, para pembunuhnya, termasuk Marga Pertiwi, mengakui kekhilafan mereka di depan seluruh warga Kampung Putih Doh. Setelah itu, mereka mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Bahkan, sebelum kejadian itu, mereka juga telah menghabisi nyawa seluruh keturunan mereka.
Menurut cerita, Unang Batin berpesan demikian kepada musuh-musuhnya karena ia memiliki ilmu sakti, yaitu bahwa siapa pun orang yang membunuhnya maka orang-orang tersebut juga akan mati bersama dengan para keturunan mereka sebelum genap empat puluh hari meninggalnya Unang Batin. Rupanya, para musuhnya tidak memahami maksud pesan Unang Batin, dan bahkan mereka meremehkannya. Akibatnya, mereka pun terkena kutukan ilmu itu.
* * *
Demikian cerita Unang Batin dari daerah Lampung. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang di dalamnya terkandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, seperti keutamaan menuntut ilmu pengetahuan, sifat rendah hati, dan akibat buruk dari sifat pendendam. Sifat keutamaan menuntut ilmu dan rendah hati terlihat pada perilaku Unang Batin. Meskipun berilmu tinggi, ia tetap rendah hati. Maka, dengan ketinggian ilmunya dan kerendahan hatinya, ia pun diangkat menjadi ujang baru dan sangat dihormati oleh orang-orang sekitarnya, meskipun pada akhirnya ia meninggal karena didzalimi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dikatakan dalam Tunjuk Ajar Melayu (Tenas Effendy: 2006: 111):
wahai ananda cahaya rumah,
menuntut ilmu tahan bersusah
menghadapi cobaan hendaklah tabah
supaya kelak hidupmu menakah
Kedua, akibat buruk dari sifat pendendam. Sifat ini terlihat pada sifat dan perilaku Marga Pertiwi dan seluruh pengikutnya yang selalu dendam kepada Unang Batin. Akibatnya, mereka dan seluruh keturunannnya pun menjadi celaka. Dikakatan pula dalam petuah orang-orang Melayu (Tenas Effendy: 2006: 376):
kalau suka berdendam kesumut, alamat hidup akan melarat
star19 20 Agustus 2010
"Cerita \"UNANG BATIN\" lebih tepatnya berasal dari Putih Doh, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung.. Nama \"MARGA PERTIWI\" bukan nama orang, tetapi nama tempat sebagai mana Putih Doh.. Mungkin maksudnya orang dari Desa Pertiwi, selatannya Desa Putih Doh.. "
Berikan Komentar Anda
Nama
Maksimal 500 Karakter
reCAPTCHA challenge image
Cerita Rakyat Lampung : Sang Kabelah
disadur dari : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/188-Sang-Kabelah.
Sabtu, 27 Juli 2013
• Beranda » Cerita Rakyat Nusantara » Sang Kabelah
Sang Kabelah
Lampung - Indonesia
Sang Kabelah
Rating : Rating 2.7 2.7 (18 pemilih)
Kabelah adalah seorang anak laki-laki yang lahir dengan tubuh hanya separuh. Karena tubuhnya yang cacat itu, ia sering dicemooh oleh teman-teman sebayanya. Ketika beranjak dewasa, Kabelah berniat untuk pergi mencari Tuhan agar tubuhnya dibuat sempurna layaknya manusia pada umumnya. Berhasilkah Kabelah memenuhi keinginannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Sang Kabelah berikut ini!
* * *
Alkisah, ada sepasang suami-istri yang tinggal di sebuah kampung di daerah Lampung. Mereka sudah bertahun-tahun berumah tangga, namun belum dikaruniai seorang anak. Mereka sangat menginginkan seorang anak untuk mengisi kesepian mereka. Oleh karena itu, hampir setiap malam mereka berdoa dan mendatangi tabib yang sakti untuk memenuhi keinginan tersebut.
Pada suatu malam, sepasang suami-istri tersebut berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Oh Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang anak, walaupun hanya berbadan sebelah!” pinta suami istri itu dengan penuh ketulusan.
Berkat doa yang tulus tersebut, sang Istri pun mengandung. Sesuai dengan permintaan mereka, beberapa bulan kemudian, sang Istri pun melahirkan seorang bayi laki-laki berbadan setengah. Bayi mungil itu hanya memiliki satu telinga, satu mata, satu tangan, dan satu kaki. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu diberi nama Kabelah.
Meskipun berbadan sebelah, Kabelah senantiasa mendapat perhatian dan kasih sayang tulus dari kedua orang tuanya. Ia tumbuh menjadi anak sehat dan dapat bermain bersama teman-teman sebayanya. Namun, ia seringkali dicemooh oleh teman-temannya karena badannya hanya sebelah.
Pada suatu hari, ketika sedang asyik bermain, Kabelah dicelah oleh teman-temannya. Dengan hati sedih, ia pun pulang ke rumahnya.
“Hai Belah, Anakku! Kenapa kamu selalu tampak sedih setiap pulang dari bermain?” tanya ibunya dengan penuh perhatian.
“Iya, Bu! Belah sedih karena setiap hari mereka mengejekku. Belah tidak mau lagi ikut bermain bersama mereka,” keluh Kabelah kepada ibunya.
“Sabarlah, Anakku! Kita harus rela menerima keadaan ini dengan hati yang tulus. Semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Jika mereka mencelamu sama artinya mereka mencela Tuhan,” hibur ibunya.
Walaupun berkali-kali dicegah oleh ibunya, Kabelah tetap saja bersedih dan sering menyendiri. Ia tidak pernah lagi bermain bersama teman-temannya karena malu terus dicemooh.
Waktu terus berjalan. Kabelah pun tumbuh dewasa. Suatu ketika, tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk pergi mencari Tuhan. Ia pun menyampaikan niat itu kepada kedua orang tuanya.
“Ayah, Ibu! Aku tidak tahan lagi hidup dengan keadaan seperti ini. Izinkanlah aku pergi mencari Tuhan,” pinta Kabelah kepada kedua orang tuanya.
“Sudahlah, Anakku! Kamu harus rela menerima takdir ini. Kamu tidak mungkin menemukan Tuhan,” cegah ibunya.
Meskipun kedua orang tuanya berkali-kali mencegahnya, Kabelah tetap bersikeras untuk pergi mencari Tuhan. Kedua orang tuanya pun tidak dapat lagi mencegah keinginan Kabelah. Mereka hanya dapat mendoakannya dengan mengadakan selamatan untuk keselamatan anak semata wayangnya selama di perjalanan.
Akhirnya, Kabelah pun berangkat dengan membawa bekal seperlunya. Setelah berhari-hari berjalan, ia bertemu dengan seorang lelaki tua berpakaian serba putih sedang duduk berzikir di atas batu di tengah hutan lebat. Kabelah pun memberanikan diri bertanya kepada pertapa itu.
“Maaf, Tuan! Bolehkah aku bertanya apakah Tuan mengetahui keberadaan Tuhan?” tanya Kabelah.
Tanpa diduganya, orang tua menjawabnya dengan kata-kata kasar.
“Hai, pemuda cacat! Aku saja yang berbadan sempurna dan bertahun-tahun duduk berzikir di atas batu ini belum juga menemukan Tuhan, apalagi kamu yang hanya berbadan sebelah itu,” hardik lelaki tua.
Betapa sedihnya hati Kabelah mendengar jawaban itu. Dengan hati sedih, ia pun segera berlalu dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah beberapa jauh berjalan, ia tiba-tiba dihadang oleh sekawanan perampok.
“Hai, pemuda jelek! Hendak ke mana kamu, hah? Serahkan semua barang bawaanmu itu kepada kami!” seru kepala perampok itu.
“Ampun, Tuan! Jangan sakiti aku. Izinkalah aku lewat! Aku ingin pergi mencari Tuhan,” iba Kabelah.
Salah seorang anggota perampok merasa kasihan melihat Kabelah. Ia pun berusaha membujuk pimpinannya itu agar membiarkan anak muda ini pergi. Melihat kejujuran Kabelah, kepala perampok itu pun mengizinkannya untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan ia berpesan agar Kabelah singgah di tempat mereka sepulang dari bertemu dengan Tuhan.
“Terima kasih, Tuan! Aku berjanji akan kembali menemui kalian jika aku sudah bertemu dengan Tuhan,” ucap Kabelah seraya berpamitan.
Kabelah kembali melanjutkan perjalanan. Ketika sudah mulai gelap, ia bermaksud untuk beristirahat. Setelah berkeliling mencari tempat berlindung dari dinginnya udara malam dan gangguan binatang buas, akhirnya ia menemukan sebuah gua. Sebelum memasuki mulut gua itu, terlebih dahulu meminta izin kepada penjaganya. Betapa terkejutnya ketika ia berada di sebuah ruangan di dalam gua itu. Ia merasa seolah-olah tubuhnya tidak menyentuh lantai. Tak berapa lama kemudian, ia kembali dikejutkan oleh suara yang menggema menegurnya.
“Hai, Anak Muda! Kamu tidak boleh berada di dalam ruangan itu!” demikian suara itu.
Baru saja Kabelah akan meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba matanya menjadi mengantuk sekali. Akhirnya ia tertidur di tempat. Betapa terkejutnya saat ia terbangun. Tiba-tiba ia berada di dalam sebuah ruangan yang sangat indah. Tak seorang pun di ruangan itu kecualinya dirinya. Meski demikian, ia mencoba untuk bertanya tentang keberadaan Tuhan.
“Siapa pun yang mendengar suaraku, mohon jawablah pertanyaanku ini! Di manakah Tuhan berada dan di mana tubuhku yang sebelah?” tanya Kabelah.
Sejenak Kabelah diam, namun tak ada jawaban. Ia justru kembali tertidur. Begitu terbangun, tiba-tiba ia melihat tubuhnya menjadi normal seperti manusia pada umumnya. Ia pun segera berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah mengambulkan permohonan hamba!” ucap Kabelah.
Ketika Kabelah akan meninggalkan gua itu, tiba-tiba terdengar suara berpesan kepadanya.
“Wahai, Kabelah! Jangan lupa singgah di tempat pertapa dan kawanan perampok itu! Beritahukan kepada mereka agar mau merubah sifat dan perilaku mereka!” seru suara itu.
Setelah mendengar pesan itu, Kabelah pun pulang ke rumahnya. Ketika singgah di tempat pertapa itu, ia mendapati orang tua itu sedang duduk terpekur. Ia pun segera menyampaikan pesan itu kepadanya. Akhirnya, lelaki tua itu insyaf. Ia tidak pernah lagi berkata kasar dan memandang rendah orang lain. Demikian pula para perampok itu, mereka juga insyaf dan tidak pernah lagi merampok. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, mereka bercocok tanam.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, Kabelah kembali meneruskan perjalanannya pulang. Setibanya di rumah, ia pun disambut gembira dengan penuh bahagia oleh kedua orang tuanya. Mereka pun mengandakan syukuran atas kepulangan anaknya dengan tubuh yang sudah sempurna. Sejak itu, nama Kabelah diganti menjadi Muhammad Syukur. Ia pun dapat kembali bergaul bersama teman-temannya tanpa ada perasaan dendam sedikit pun.
* * *
Demikian cerita Sang Kabelah dari daerah Lampung. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandun pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa dengan kemauan keras, ketekunan, dan kesabaran, keinginan seseorang akan terwujud. Hal ini terlihat pada sifat dan perilaku Kabelah. Berkat kemauan, kerja keras, dan kesabarannya, keinginan untuk mengembalikan tubuhnya menjadi normal dapat terwujud. (Samsuni/sas/176/12-09)
Sumber foto: Mahyudin Al Mudra, dkk. 336 Cerita Rakya Nusantara. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)