Pengikut
Sabtu, 27 Juli 2013
Cerita Rakyat Lampung : Si Bugu yang Pandir
disadur dari : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/278-Si-Bugu-yang-Pandir.
Sabtu, 27 Juli 2013
• Beranda » Cerita Rakyat Nusantara » Si Bugu yang Pandir
Si Bugu yang Pandir
Lampung - Indonesia
Si Bugu yang Pandir
Si Bugu yang Pandir
Rating : Rating 3 3 (13 pemilih)
Si Bugu adalah seorang pemuda pandir yang tinggal di sebuah kampung di daerah Lampung. Ia disebut pandir karena daya berpikirnya yang sangat lemah. Meskipun demikian, si Bugu pada akhirnya mampu menjadi raja dan memiliki seorang permaisuri yang cantik jelita. Bagaimana pemuda pandir itu bisa menjadi raja? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Bugu yang Pandir berikut ini!
* * *
Dahulu, di suatu kampung di Lampung, ada seorang pemuda pandir bernama si Bugu. Ia tinggal bersama ibunya sebuah gubuk yang terletak di pinggir hutan. Sehari-hari ia membantu ibunya bercocok tanam di ladang peninggalan ayahnya. Hasilnya pun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Suatu hari, si Bugu bersama ibunya sedang duduk di depan gubuk. Sang Ibu sedang menambal pakaian si Bugu yang sudah bolong. Sementara si Bugu yang pandir itu sedang asyik menggores-gores tanah dengan sebatang ranting kayu kering. Saat si Bugu sedang asyik, tiba-tiba ibunya berkata kepadanya.
“Bugu, anakku. Bukankah kamu sudah dewasa? Alangkah baiknya jika kamu mencari seorang gadis untuk kamu jadikan istri!” ujar ibu Bugu.
Tanpa berkata-kata, Bugu langsung menuruti nasehat ibunya. Namun, setiap gadis yang ia temui, tidak seorang pun yang bersedia menikah dengannya. Dengan perasaan kecewa, ia pulang ke rumah untuk mengadukan nasibnya kepada sang Ibu.
“Ibu, aku sudah berusaha, tapi semua gadis yang kutemui menolak,” keluh si Bugu.
“Jangan putus asa, anakku,” ujar sang Ibu, “Teruslah mencoba, siapa tahu ada yang mau menerimamu. Besok, jika kamu menemukan seorang gadis dan ia hanya diam, itu tandanya setuju.”
“Baik, Bu,” jawab si Bugu.
“Hari sudah sore, Nak. Sebaiknya, kamu mandi dan istirahat dulu. Besok kamu bisa mencoba lagi,” ujar ibunya.
Bugu pun menuruti nasehat ibunya. Keesokan harinya, pemuda pandir itu kembali melanjutkan pencarian jodohnya. Ketika ia menyusuri sebuah jalan yang sepi, tiba-tiba ia melihat seorang gadis sedang tergeletak di pinggir jalan. Ia pun langsung menanyai gadis itu, namun tidak menjawab.
“Gadis ini hanya diam saja. Berarti dia pasti mau menjadi istriku,” gumam si Bugu dengan perasaan senang.
Dikiranya gadis itu sedang tidur untuk melepas, padahal ia sudah meninggal dunia karena terjatuh. Tanpa berpikir panjang, si Bugu pun mengangkat gadis itu pulang ke rumahnya. Betapa senangnya hati ibunya ketika ia sampai di rumah.
“Bu, Anakku. Ternyata kamu berhasil juga menemukan jodohmu,” ujar ibunya tanpa memperhatikan keadaan gadis itu.
Sementara itu, si Bugu langsung membawa gadis itu ke dalam kamarnya. Ketika hari sudah sore, sang Ibu ingin menemui gadis itu. Namun, ia mengurungkan niatnya karena mengira gadis itu sedang beristirahat. Ia tidak ingin mengganggunya. Hingga tengah malam, ibu Bugu terus menunggu gadis itu keluar dari dalam kamar.
“Kenapa gadis itu mengurung diri terus di dalam kamar?” gumam ibu Bugu.
Rupanya, ibu Bugu sudah kuat menahan rasa kantuk hingga ia pun terlelap. Saat terbangun pada pagi harinya, tiba-tiba ia mencium bau busuk yang amat menyengat dari dalam kamar. Oleh karena penasaran, janda itu pun memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya ia saat melihat tubuh gadis itu terbujur kaku dan berbau busuk.
“Buguuu… Buguuu… ternyata gadis yang kamu bawa itu sudah meninggal,” gumam ibu Bugu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Perempuan tua itu pun segera menemui anaknya.
“Bugu, rupanya kamu membawa mayat ke rumah ini. Gadis itu berbau busuk. Itu artinya ia sudah sudah meninggal dunia,” ungkap ibu Bugu.
“Oh, begitu,” jawab Bugu dengan lugunya.
Akhirnya, Bugu dan ibunya segera mengubur mayat gadis itu. Begitu usai mengubur gadis itu, tiba-tiba ibunya kentut.
“Aduh, Ibu bau sekali. Rupanya Ibu sudah mati juga,” kata Bugu.
Pemuda pandir itu langsung mengangkat ibunya untuk dikubur. Ibunya pun meronta-ronta lalu pergi meninggalkan Bugu. Tak berapa lama kemudian, kini giliran Bugu yang kentut.
“Hmm… aku bau sekali. Berarti aku juga sudah mati,” gumam Bugu, “Tapi, siapa yang akan menguburku?”
Bingung karena tidak orang yang menguburnya, Bugu kemudian terjun ke sungai dan terus menyelam. Namun karena tidak tahan di dalam air, ia pun segera mengapung. Saat itu, ia melihat seorang pria yang sudah dikenalnya. Namun, pria yang bernama Bakhetih itu rupanya seorang pencuri. Saat itu Bakhetih sedang berdiri di bawah pohon mangga di tepi sungai. Bugu lalu menghampirinya.
“Hai, Bakhetih. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Bugu.
“Aku sedang menunggu mangga jatuh, Bugu,” jawab Bakhetih.
Akhirnya, Bakhetih pun mengajak Bugu ikut bersamanya pergi mencuri. Mula-mula Bugu diajak mencuri ayam karena ia amat menyukai hati ayam. Namun, Bugu menolak.
“Aku ingin hati yang lebih besar,” kata Bugu.
“Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya kita mencuri kerbau saja,” ujar Bakheti.
Malam harinya, kedua orang itu mendatangi rumah seorang warga untuk mencuri kerbau. Namun, ketika hendak mengeluarkan kerbau itu dari kandangnya, tiba-tiba Bugu batuk-batuk sehingga kehadiran mereka ketahuan oleh si pemilik kerbau. Rencana mereka pun gagal.
Malam berikutnya, Bakhetih menyuruh si Bugu seorang diri untuk mencuri uang di istana raja. Sebelum ia pergi, Bakheti berpesan kepadanya.
“Bugu, ketahuilah bahwa ciri-ciri uang itu adalah berat, licin jika dipegang, dan berbunyi jika dipukul!” ujar Bakhetih.
“Baik, Bakheti,” jawab si Bugu.
Setelah itu, berangkatlah si Bugu ke istana raja. Sesampai di sana, ia pun berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar tempat penyimpanan uang raja melalui loteng. Karena suasana gelap, Bugu pun meraba dan merasakan ada benda menonjol dan licin.
“Benda ini pasti uang,” pikirnya.
Untuk menyakinkan dirinya bahwa benda itu adalah benar-benar uang, si Bugu memukul-mukul benda itu.
“Ting…. Ting… Ting…!!!” demikian suara uang logam itu.
Karena suaranya nyaring sekali, penjaga kamar yang sedang terlelap pun terbangun. Tak ayal, aksi Bugu pun ketahuan dan akhirnya ditangkap. Ia kemudian dilaporkan kepada sang Raja.
“Cepat masukkan ke dalam pencuri itu!” titah sang Raja.
Malam itu juga, si Bugu dimasukkan ke penjara. Pada esok harinya, raja memerintahkan kepada pengawalnya untuk memberi hukuman mati kepada si Bugu.
“Bawa pemuda itu ke hutan dan bakarlah dia!” titah sang Raja.
Bugu pun dibawa ke hutan oleh beberapa pengawal istana. Setiba di hutan, Bugu diikat di sebatang pohon. Sementara para pengawal pergi mencari kayu bakar. Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang pedagang lewat dan bertanya kepada Bugu.
“Hai, kenapa kamu diikat seperti itu?” tanya pedagang itu.
“Saya sedang berobat, Tuan. Pinggang saya sekali karena terlalu sering berdagang,” jawab Bugu.
Rupanya, pedagang itu terpengaruh oleh ucapan si Bugu. Ia pun ingin berobat seperti halnya si Bugu.
“Kalau begitu, bolehkah saya ikut berobat? Pinggang saya sakit sekali,” pinta pedagang itu.
“Tentu, Tuan,” jawab si Bugu, “Tapi, lepaskan dulu tali ini!”
Akhirnya, pedagang itu melepaskan tali ikatan Bugu. Setelah itu, ia diikat di batang pohon itu menggantikan si Bugu. Sementara itu, si Bugu segera meninggalkan tempat itu.
Selang beberapa saat kemudian, para pengawal telah kembali. Tanpa memperhatikan tawanannya, mereka langsung menimbuni pedagang itu dengan kayu lalu membakarnya. Pedagang itu pun akhirnya tewas karena hangus terbakar.
Sementara itu, si Bugu kembali ke istana untuk membalas dendam kepada Raja. Alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat si Bugu masih hidup.
“Hai, anak muda. Kenapa kamu masih hidup? Bukankah seharusnya kamu sudah mati terbakar?” tanya raja dengan heran.
“Benar, Baginda. Hamba memang sudah mati dibakar, tapi para bidadari mengangkat hamba ke kahyangan. Di sana hamba bertemu dengan kerabat Baginda. Mereka sangat rindu dan ingin bertemu dengan Baginda,” kata si Bugu, “Tapi, Baginda harus mati dulu dengan cara membakar diri.”
“Benarkah begitu, wahai anak muda?” tanya sang Raja seolah-olah tidak percaya.
“Benar, Baginda. Silakan saja jika Baginda Raja ingin ke kahyangan menemui mereka!” ujar si Bugu.
Sang Raja pun ingin sekali ke kahyangan untuk menemui kerabatnya. Ia lalu membakar diri hingga akhirnya tewas. Melihat peristiwa itu, permaisuri raja amat sedih. Si Bugu pun berusaha menenangkan hatinya.
“Sudahlah, Permaisuri! Restuilah kepergian Baginda, semoga hidupnya tenang di surga,” ujar si Bugu.
“Bagaimana dengan kerajaan ini?” tanya permaisuri bingung.
“Tenang, Permaisuri! Selama Baginda berada di surga, saya diminta menggantikannya sebagai raja dan engkau menjadi permaisuriku,” ujar si Bugu.
Sang Permaisuri pun tak kuasa menolak kenyataan itu. Maka, sejak itulah si Bugu menjadi raja dan kemudian mengangkat Bakhetih si pencuri menjadi pengantar surat istana.
* * *
Demikin cerita Si Bugu yang Pandir dari daerah Lampung. Kisah di atas hanyalah sebuah cerita dongeng yang berkembang di kalangan masyarakat Lampung. Di balik cerita di atas, tersimpan pesan-pesan moral yang dapat dipetik untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah bahwa janganlah kita terlalu mudah percaya pada perkataan seorang yang pandir seperti si Bugu karena akibatnya akan menyesatkan. (Samsuni/sas/264/06-11)
Dibaca 8.584 kali
Cerita Rakyat Lampung : Sidang Belawan
disadur dari : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/258-Sidang-Belawan.
Sabtu, 27 Juli 2013
• Beranda » Cerita Rakyat Nusantara » Sidang Belawan
Sidang Belawan
Lampung - Indonesia
Sidang Belawan
Sidang Belawan
Rating : Rating 2.5 2.5 (10 pemilih)
Sidang Belawan adalah seorang putra raja yang memiliki istri seorang bidadari. Suatu ketika, sang Istri terpaksa kembali ke negerinya karena Sidang Belawan melanggar janji. Ia pun berupaya mengejarnya hingga ke khayangan. Namun, Sidang Belawan baru boleh bertemu dan membawa istrinya kembali ke bumi setelah melalui tiga ujian. Janji apakah yang dilanggar Sidang Belawan? Lalu berhasilkah dia melewati ketiga ujian tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Sidang Belawan berikut ini!
* * *
Dahulu, di daerah Lampung, ada seorang raja yang memiliki tujuh orang istri. Dari ketujuh istri tersebut, hanya istri yang terakhir memiliki anak. Anak itu seorang laki-laki dan diberi nama Sidang Belawan. Setelah tumbuh dewasa, Sidang Belawan gemar menangkap ikan di sungai dengan menggunakan jala. Suatu hari, ketika ia sedang menjala ikan di sungai, bukannya ikan yang diperoleh melainkan sebuntal rambut yang amat panjang.
“Hai, kenapa ada buntalan rambut di sungai ini?” tanyanya dengan heran.
Penasaran dengan buntalan rambut itu, Sidang Belawan pun memasukkannya ke dalam saku celananya lalu berjalan menuju ke hulu sungai. Ketika hendak menebar jalanya di sebuah lubuk di dekat pancuran, tiba-tiba pandangan Sidang Belawan tertuju pada 7 bidadari yang sedang asyik mandi di lubuk itu. Sebelum para bidadari itu melihat, Sidang Belawan cepat-cepat bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dari balik batu itu, ia mengamati gerak-gerik para bidadari tersebut. Saat mereka lengah, Sidang Belawan diam-diam mengambil salah satu selendang yang diletakkan pinggir lubuk. Ternyata, selendang itu adalah milik Bidadari Bungsu.
Selang beberapa saat kemudian, keberadaan Sidang Belawan akhirnya tercium oleh para bidadari tersebut. Ketika mereka hendak meninggalkan tempat itu, tampak Bidadari Bungsu sedang kebingungan mencari selendangnya.
“Kakak, apakah kalian melihat selendangku?” tanya Bidadari Bungsu.
“Tidak, Adikku. Kami tidak melihatnya,” jawab bidadari sulung.
Keenam bidadari itu pun pergi meninggalkan si Bungsu. Bidadari yang malang itu hanya bisa meratapi nasibnya yang tidak bisa terbang karena selendangnya hilang. Sidang Belawan yang sedang bersembunyi di balik batu segera menghampirinya.
“Hai, bidadari cantik. Kenapa kamu menangis?” tanya Sidang Belawan yang berpura-pura tidak tahu keadaan yang sebenarnya.
“Selendangku hilang, Tuan. Sementara kakak-kakakku telah pergi meninggalkanku seorang diri di sini,” jawab Bidadari Bungsu dengan hati sedih, “Aku tidak bisa lagi kembali ke negeriku di Kahyangan.”
“Sudahlah, Putri. Barangkali sudah menjadi nasibmu berjodoh denganku,” kata Sidang Belawan.
“Apa maksud perkataan, Tuan?” tanya Bidadari Bungsu.
“Kebetulan aku masih bujangan. Jika Putri berkenan, aku ingin Putri menjadi pendamping hidupku,” bujuk Sidang Belawan.
Bidadari Bungsu menghela nafas panjang lalu termenung sejenak. Setelah berpikir bahwa dirinya tidak mungkin lagi kembali ke kahyangan tanpa selendangnya, ia pun menerima bujukan Sidang Belawan. Akhirnya, pangeran itu membawa Bidadari Bungsu ke istana untuk diperistri.
Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Sidang Belawan dengan sang Bidadari Bungsu pun dilangsungkan dengan cukup meriah di istana. Setelah itu, keduanya pun hidup bahagia. Namun, kebahagiaan mereka ternyata membawa duka bagi keenam istri ayahnya yang lain. Mereka pun semakin benci kepada Sidang Belawan dan ibunya. Maka, dengan berbagai tipu daya, mereka berhasil membujuk Raja agar mengasingkan Sidang Belawan dan keluarganya ke luar istana.
Sejak itu, Sidang Belawan bersama istri dan ibunya tinggal di sebuah kampung. Kini, ia harus lebih giat bekerja dengan bercocok tanam dan mencari ikan di sungai. Hasilnya pun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan, sebagian hasil panen tersebut disimpan di lumbungnya jika mendapat hasil yang lebih.
Setahun kemudian, Bidadari Bungsu melahirkan seorang anak laki-laki. Kehadiran buah hati itu membuat Sidang Belawan semakin bahagia dan giat bekerja. Demikian pula sang Istri, ia semakin sayang pada keluarganya.
Suatu hari, Bidadari Bungsu hendak ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada sang Suami.
“Kanda, tolong jangan buka panci di atas tungku itu sebelum Dinda pulang!” ujar Bidadari Bungsu.
Sidang Belawan hanya menganggukkan kepala. Setelah sang Istri pergi, Sidang Belawan yang penasaran dengan apa yang dimasak istrinya segera membuka panci itu. Saat tutup panci itu dibuka, ternyata isinya hanya sebutir beras.
“Jadi, selama ini istriku menanak sebutir beras. Pantas saja padi di lumbung tidak berkurang,” gumam Sidang Belawan dengan heran.
Saat siang menjelang, Bidadari Bungsu pun kembali dari pasar dan langsung membuka panci itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat sebutir beras itu tidak tanak menjadi nasi. Ia amat marah kepada suaminya yang telah melanggar janjinya.
“Kenapa Kanda melanggar janji? Coba lihat, beras yang Dinda tanak tidak jadi nasi!” ujar Bidadari Bungsu dengan kesal.
“Maafkan Kanda, Dinda!” ucap Sidang Belawan.
Ternyata, Bidadari Bungsu tidak bisa menumbuk padi seperti halnya penduduk bumi lainnya. Maka, ia pun menggunakan kesaktiannya dengan menanak sebutir beras menjadi satu panci nasi. Namun, kesaktian itu akan hilang jika diketahui oleh manusia. Oleh karena suaminya sudah mengetahui hal itu, ia pun harus menumbuk padi sendiri. Ketika hendak mengambil padi di lumbung, tiba-tiba ia tersentak kaget saat matanya tertuju pada sebuah kain berwarna ungu di antara tumpukan padi.
“Hai, sepertinya aku mengenal kain itu,” gumamnya dengan tersentak.
Ternyata dugaannya benar. Kain itu tak lain adalah selendangnya yang disembunyikan oleh Sidang Belawan. Ia pun cepat-cepat menggendong anaknya lalu terbang ke kahyangan. Sidang Belawan berusaha mengejar tapi tidak bisa karena terhalang oleh lautan api. Namun, ia tidak berputus asa. Ia segera menangkap seekor ayam jantannya lalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
“Ya, Tuhan. Jika hamba keturunan raja sakti, ubahlah ayamku ini menjadi rajawali!” pinta Sidang Belawan.
Doa Sidang Belawan terkabulkan. Ayam jantannya pun berubah menjadi seekor burung rajawali raksasa. Ia lalu mengikatkan tubuhnya pada rajawali itu dengan rambut yang pernah ditemukan di sungai agar tidak terjatuh saat rajawali itu membawanya terbang ke kahyangan. Namun, ketika ia melewati lautan api itu, belitan rambut itu terbakar satu per satu hingga ia pun terjatuh dan terbakar api. Melihat kejadian itu, rajawali itu segera terbang mencari pertolongan. Akhirnya, rajawali menemukan seorang tua bertongkat di tepi pantai.
“Hai, Pak Tua! Tolong selamatkan Tuanku yang tercebur ke dalam lautan api,” pinta rajawali yang ternyata bisa berbicara layaknya manusia.
Orang tua sakti itu pun memeritahkan rajawali mencari 7 batang lidi daun kelapa hijau dan 7 tangkai ketan hitam. Setelah kedua jenis benda itu didapatkan, orang tua itu segera membakarnya lalu berdoa.
“Ya, Tuhan. Jika Sidang Belawan keturunan raja yang sakti, mohon hidupkanlah dia kembali!” pinta orang tua itu.
Permohonan orang tua itu terkabulkan. Sidang Belawan pun hidup kembali. Setelah itu, lelaki tua sakti itu membakar tujuh tangkai ketan hitam lalu kembali berdoa kepada Tuhan.
“Ya, Tuhan. Jika Sidang Belawan keturunan raja yang sakti, mohon antarkan ia ke Kahyangan!”
Permohonan orang tua itu kembali dikabulkan oleh Tuhan. Maka, seketika itu pula tubuh Sidang Belawan menghilang lalu tiba-tiba muncul di kahyangan berhadapan dengan 7 bidadari cantik dengan wajah dan gaya yang serupa. Sidang Belawan pun bingung mengenali istrinya di antara ketujuh bidadari tersebut.
“Hai, Sidang Belawan! Jika ingin mendapatkan istrimu, engkau harus melalui tiga ujian dari kami,” ujar salah seorang bidadari itu.
“Apapun syarat itu, akan kupenuhi demi mendapatkan kembali istriku,” kata Sidang Belawan.
Ketujuh bidadari itu kemudian menghidangkan tiga jenis makanan untuk Sidang Belawan yang salah satunya telah diberi racun. Jika ia salah memilih, maka tamatlah riwayatnya. Ketika ia hendak memilih salah satu dari makanan itu, ia didahului oleh seekor kucing. Ternyata, kucing itu menyantap makanan yang beracun hingga akhirnya tewas. Maka selamatlah Sidang Belawan dan ia pun dianggap lulus ujian pertama.
Ujian kedua yang harus dilalui Sidang Belawan adalah mengisi bak kosong yang berlubang. Ia segera ke sungai mengambil air untuk mengisi bak itu. Namun, pekerjaan sia-sia karena setiap kali diisi, bak itu kembali kosong. Ketika ia mulai putus asa, tiba-tiba gerombolan belut datang menolongnya. Belut-belut tersebut menggosok-gosokkan badannya pada lubang bak itu hingga lendirnya menutupinya. Akhirnya, Sidang Belawan berhasil mengisi bak itu dengan air hingga penuh.
“Engkau dinyatakan lulus ujian kedua. Sebagai ujian terakhir, silakan pilih salah satu dari kami yang kamu yakini istrimu!” ujar salah seorang bidadari.
Sidang Belawan pun bingung untuk memilih di antara 7 bidadari yang serupa itu. Di tengah-tengah kebingungannya, datang seekor kunang-kunang.
“Hai, Sidang Belawan. Aku akan membantumu. Jika aku hinggap di salah satu sanggul bidadari tersebut, berarti itulah istrimu,” ujar kunang-kunang itu.
“Terima kasih, kunang-kunang,” ucap Sidang Belawan.
Kunang-kunang itu kemudian terbang dan hinggap di sanggul bidadari yang berdiri paling ujung kiri. Tanpa ragu-ragu lagi Sidang Belawan pun segera mendekapnya.
“Maafkan Kanda, Dinda. Kanda berjanji tidak akan ingkar janji lagi,” ucap Sidang Belawan dengan perasaan haru.
“Iya, Kanda. Dinda pun berjanji akan hidup bersama Kanda,” kata Bidadari Bungsu.
Sementara itu, keenam bidadari lainnya mendekati Sidang Belawan.
“Kamu lulus ujian, Sidang Belawan. Bawalah istrimu ke bumi!” ujar bidadari sulung.
“Terima kasih, wahai para Bidadari,” ucap Sidang Belawan.
Akhirnya, Sidang Belawan memboyong istri dan anaknya ke bumi. Para warga pun menyambut gembira kedatangan mereka. Sejak itu, Sidang Belawan hidup berbahagia bersama anak istri dan ibunya.
* * *
Demikian cerita Sidang Belawan dari daerah Lampung. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah suka mengingkari janji sebagaimana yang ditunjukkan sikap dan perilaku Sidang Belawan yang mengingkari janji istrinya adalah sikap yang tidak baik. Akibatnya, sang Istri pun pergi meninggalkannya. Untungnya, Sidang Belawan memiliki sifat tidak mudah putus asa. Berkat perjuangannya, ia berhasil mendapatkan istrinya kembali. (Samsuni/sas/245/04-11)
Diceritakan kembali oleh Samsuni
Dibaca 6.153 kali
Cerita Rakyat Lampung : Putri Siluman
disadur dari : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/210-Putri-Siluman.
Sabtu, 27 Juli 2013
• Beranda » Cerita Rakyat Nusantara » Putri Siluman
Putri Siluman
Lampung - Indonesia
Putri Siluman
Putri Siluman
Rating : Rating 2.4 2.4 (44 pemilih)
Diceritakan kembali oleh Samsuni
Putri Siluman adalah seorang penjaga sebuah sumur yang terdapat di daerah Lampung, Indonesia. Putri Siluman terkenal memiliki ilmu yang mampu memberikan keturunan bagi pasangan suami-istri yang belum mempunyai anak. Suatu ketika, datanglah seorang raja untuk meminta bantuan kepadanya agar dikaruniai seorang putra mahkota yang dapat meneruskan tahtanya kelak. Namun, raja itu justru jatuh cinta kepada Putri Siluman dan menikahinya. Ketika Putri Siluman hamil, mencullah masalah besar, yaitu dia mengidam kepala manusia untuk lauk makan setiap hari. Akankah sang raja memenuhi semua permintaan Putri Siluman tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Putri Siluman berikut ini!
* * *
Alkisah, di sebuah negeri di daerah Lampung, Indonesia, ada seorang raja yang sudah puluhan tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama permaisurinya, namun belum dikaruniai seorang anak. Sang raja tidak sabar lagi ingin segera mempunyai putra yang kelak akan menggantikan kedudukannya. Ia pun mulai putus asa karena berbagai macam usaha telah dilakukannya, tetapi belum satu membuahkan hasil.
Suatu hari, ketika sang raja sedang duduk termenung seorang diri di singgasananya, tiba-tiba seorang pengawal istana datang menghadap.
“Ampun Baginda, jika kedatangan hamba mengganggu ketenangan Baginda!” lapor pengawal itu.
“Kabar apa yang akan kamu sampaikan pengawal?” tanya sang raja.
“Ampun, Baginda! Semoga berita yang hamba bawa ini adalah berita gembira buat Baginda,” kata si pengawal.
“Kabar apakah itu, hai pengawal? Cepat katakan kepadaku!” seru sang raja.
“Ampun, Baginda! Hamba baru saja mendengar kabar bahwa siapa pun yang ingin mempunyai anak hendaknya datang ke sebuah sumur yang dijaga oleh Putri Siluman,” lapor pengawal itu.
“Di mana sumur itu berada?” tanya sang raja dengan tidak sabar.
“Ampun, Baginda! Sumur itu berada di ujung negeri ini,” jawab pengawal itu.
Tanpa berpikir panjang, sang raja segera menuju ke tempat itu untuk menemui Putri Siluman. Alangkah terkejutnya saat ia tiba di sana karena wanita yang ditemuinya berbeda dari apa yang ada di dalam pikirannya. Sebelumnya, ia mengira bahwa wajah Putri Siluman itu sangat jelek dan menyeramkan. Namun, tanpa diduganya ternyata Putri Siluman adalah seorang wanita cantik yang mempesona. Tak ayal lagi, sang raja pun terpesona kepada kecantikan Putri Siluman itu. Niatnya yang semula ingin meminta pertolongan agar ia dan permaisurinya dikaruniai anak kini berubah menjadi ingin menikahi wanita penunggu sumur itu.
Putri Siluman itu pun tidak langsung menerima ajakan sang raja karena ia tahu bahwa raja itu masih mempunyai permaisuri di istana. Oleh karena itulah, ia menuntut kepada sang raja agar menceraikan permaisurinya.
“Jika Tuan ingin menikahi hamba, maka ceraikanlah permaisuri Tuan terlebih dahulu karena hamba tidak rela diduakan!” pinta Putri Siluman.
Sang raja yang telah dibutakan oleh cinta itu bersedia memenuhi tuntutan Putri Siluman. Apalagi ia menyadari bahwa selama ini permaisurinya tidak mampu memberikannya keturunan. Akhirnya, sang Raja bergegas kembali ke istana untuk menceraikan permaisurinya lalu mengasingkannya ke suatu tempat yang jauh. Setelah itu, ia pun menikahi Putri Siluman dan memboyongnya ke istana.
Beberapa bulan kemudian, Putri Siluman diketahui sedang mengandung. Alangkah senangnya hati sang raja mendengar kabar tersebut. Kehadiran putra penerus tahta kerajaan yang sudah bertahun-tahun dinantikannya tidak lama lagi akan menjadi kenyataan. Namun, sang raja lupa jika pemaisuri barunya adalah seorang siluman. Keadaan itu baru disadarinya ketika Putri Siluman mengidam kepala manusia untuk lauk makan setiap hari.
Tentu saja hal tersebut membuat sang raja bingung. Jika ia menolak permintaan Putri Siluman itu, maka keselamatan bayinya bisa terancam. Sang paja pun terpaksa menuruti semua permintaan Putri Siluman. Akibatnya, banyak rakyat yang menjadi korban. Keadaan itu membuat seluruh rakyat di negeri itu menjadi resah karena mereka tinggal menunggu giliran kepala mereka yang akan menjadi santapan Putri Siluman.
Berita tentang keresahan rakyat di negeri itu pun sampai ke telinga seorang pertapa sakti. Oleh karena prihatin terhadap nasib penduduk negeri itu, maka segeralah ia turun gunung dan kemudian menuju ke istana untuk menguji kesaktian Putri Siluman. Pertapa itu datang ke istana membawa seekor kepala kambing yang sudah disulap menjadi kepala manusia untuk dipersembahkan kepada Putri Siluman. Namun, tipu muslihat pertapa itu diketahui oleh Putri Siluman. Akhirnya wanita siluman itu menjadi murka dan seketika itu pula berubah menjadi setan yang menakutkan.
Meski demikian, pertapa itu tetap saja tenang dan bahkan menawarkan tubuhnya untuk dimakan Putri Siluman.
“Baiklah, Putri Siluman! Jika kamu memang sudah kelaparan, aku bersedia mengorbankan seluruh tubuhku untuk kamu santap. Silakan sembelihlah aku!” seru pertapa itu.
Tanpa berpikir panjang, Putri Siluman segera menyembelih dan kemudian memotong-motong tubuh pertapa itu hingga menjadi beberapa bagian. Begitu ia hendak menyantapnya, tiba-tiba potongan-potongan tubuh pertapa itu menyatu kembali. Tentu saja hal itu membuat Putri Siluman semakin murka. Dalam sekejap, seluruh tubuhnya berubah menjadi setan. Pertarungan sengit antara Putri Siluman dengan pertapa itu pun tak terelakkan lagi. Pertarungan yang berlangsung cukup lama itu akhirnya dimenangkan oleh sang pertapa, sedangkan Putri Siluman melarikan diri entah ke mana dalam keadaan hamil. Sementara itu, sang raja harus menjalani kehidupannya sebagai raja tanpa didampingi permasuri.
Dua puluh tahun kemudian, di tempat pengasingannya, permaisuri raja hidup bersama dengan seorang pemuda gagah yang bernama Putra Mayang. Dia adalah putra sang raja dan sang permaisuri. Rupanya, ketika diasingkan oleh raja, sang permaisuri sedang mengandung tujuh hari. Ketika itu, jangankan sang raja, ia sendiri baru mengetahui hal itu setelah berada di tempat pengasingan. Setelah melahirkan, ia pun merawat putra semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang. Putra Mayang pun tumbuh menjadi pemuda yang sakti mandraguna karena sejak kecil ia berguru ilmu kesaktian kepada seorang kakek di tempat pengasingan itu.
Pada suatu hari, sang permaisuri bercerita kepada Putra Mayang bahwa ayahandanya adalah seorang raja yang sangat terkenal. Mendengar cerita itu, Putra Mayang berpamitan kepada ibundanya untuk mencari sang ayah. Setelah berhari-hari berjalan menyusuri hutan belantara, tibalah ia di kota kerajaan. Putra Mayang tidak ingin terburu-buru menemui ayahandanya karena khawatir tidak diakui sebagai anak. Oleh karena itu, ia menyamar sebagai juru masak istana untuk mengetahui suasana istana dan ayahandanya.
Pada suatu malam, ketika Putra Mayang sedang beristirahat tiba-tiba seisi istana menjadi gempar. Seorang bayi hilang diculik oleh seseorang yang misterius. Setelah diusut ternyata peristiwa itu bukan kali pertama terjadi di istana. Beberapa malam yang lalu, bayi seorang menteri juga menjadi korban penculikan. Mengetahui situasi tersebut, Putra Mayang mulai melakukan pengintaian secara diam-diam. Alhasil, pada malam berikutnya ia berhasil memergoki penculik tersebut dan kemudian mengejarnya hingga terpojok di sudut benteng istana.
“Hai keparat, berhenti!” seru Putra Mayang.
Penculik itu pun terpaksa berhenti karena terpojok. Sambil menggendong seorang bayi, penculik itu balik menantang Putra Mayang untuk mengadu kesaktian.
“Hai, anak muda! Ambillah bayi ini jika kamu berani!” tantang penculik itu.
“Hai, Penculik! Siapa kamu dan kenapa kamu menculik bayi yang tidak berdosa itu?” tanya Putra Mayang.
“Ketahuilah, aku ini adalah anak Putri Siluman dan raja negeri ini! Ha… ha… ha…!!!” jawab penculik itu seraya tertawa terbahak-bahak.
Rupanya, beberapa hari sebelum kedatangan Putra Mayang ke istana, anak Putri Siluman itu terlebih dahulu tiba di istana untuk mencari ayahandanya dan ternyata sang raja mengakuinya sebagai putra. Namun, tanpa sepengetahuan sang Raja, anak Putri Siluman itu menuruni tabiat ibunya sebagai siluman yang suka memangsa manusia.
Mendengar pengakuan tersebut, Putra Mayang menjadi tidak sabar ingin melenyapkan manusia siluman itu. Pertarungan antara kedua pemuda yang bersaudara seayah itu tidak terelakkan lagi. Dalam pertarungan tersebut, Putra Mayang berhasil mengalahkan anak Putri Siluman.
Sementara itu, Putri Siluman yang mengetahui hal tersebut menjadi murka. Ia pun mendatangi Putra Mayang di istana untuk membalaskan dendam anaknya sehingga terjadilah pertarungan sengit di antara keduanya. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Putra Mayang berhasil membinasakan Putri Siluman. Kematian wanita siluman dan putranya itu disambut gembira oleh sang raja dan seluruh rakyatnya. Negeri itu pun kembali aman dan damai.
Sementara itu, Putra Mayang segera menghadap sang raja untuk menyampaikan maksud kedatangannya ke istana.
“Ampun, Baginda! Apakah Baginda masih ingat dengan permaisuri yang pernah Baginda ansingkan dua puluh tahun lalu?” tanya Putra Mayang.
Mendengar pertanyaan itu, sang raja langsung tersentak kaget.
“Hai, anak muda! Apakah kamu mengenalnya? Apakah permaisuriku itu masih hidup?” tanya sang Raja secara bertubi-tubi.
Betapa terkejutnya sang raja ketika pemuda itu mengaku bahwa dia adalah putra dari permaisuri yang malang itu.
“Apa katamu? Kamu jangan mengada-ada, wahai anak muda! Bukankah permaisuriku itu mandul?” tanya sang raja.
Putra Mayang pun menceritakan semua peristiwa yang dialami bersama ibundanya di tempat pengasingan hingga ia bisa sampai ke istana. Mendengar cerita itu, sang raja menjadi terharu dan kemudian lansung merangkul Putra Mayang.
“Oh Putraku, maafkan ayah nak! Ayah sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan kalian,” ucap sang Raja sambil meneteskan air mata dalam pelukan putranya.
“Sudahlah, Ayahanda! Lupakanlah semua yang sudah terjadi,” ujar Putra Mayang dengan penuh bijaksana.
“Terima kasih Putraku karena kalian sudah memaafkan kesalahan ayah,” kata sang raja.
“Baiklah, ayahanda! Sebaiknya kita segera menjemput ibunda. Beliau sudah lama sekali merindukan ayahanda,” kata Putra Mayang.
Setelah menyiapkan segala perlengkapan dan sejumlah pengawal istana, berangkatlah sang raja bersama Putra Mayang untuk menjemput permaisurinya di tempat pengasingan untuk diboyong ke istana. Akhirnya, sang raja dapat berkumpul kembali bersama permaisuri dan putranya. Mereka pun hidup rukun dan bahagia.
* * *
Demikian cerita Putri Siluman dari daerah Lampung, Indonesia. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa sebaiknya kita jangan terlalu cepat berputus asa seperti sang raja. Oleh karena putus asa tidak dikaruniai seorang putra, ia rela menceraikan permaisurinya dan menikah dengan wanita siluman. Akibatnya, banyak orang yang menjadi korban atas tindakannya tersebut. Selain keluarganya tersia-siakan, banyak pula rakyatnya yang menjadi korban dari keberingasan Putri Siluman dan putranya yang suka memangsa manusia. Selain itu, sifat pemaaf seperti yang dimiliki oleh Putra Mayang dan ibundanya merupakan sifat yang terpuji. Sebesar-besar kesalahan sang Raja, mereka masih bersedia memaafkannya sehingga mereka pun dapat berkumpul kembali dan hidup bahagia.
(Samsuni/sas/199/08-10)
Dibaca 19.986 kali
Langganan:
Postingan (Atom)